Senin, 11 Juni 2012

Mengembalikan Makna dan Tujuan Pendidikan

Oleh Anita Nur Aini, S.S.

Seorang ahli pendidikan Inggris Alfred North Whitehead mengatakan: ''hari ini bangsa itu mungkin bisa bertahan, besok ilmu pengetahuan akan maju satu langkah. Bagi bangsa yang tidak berpendidikan, tidak ada suatu mahkamah pun yang dapat menolong ke mana ia mengadukan pengaduan atas hukuman yang telah dijatuhkan kepada bangsa yang tidak berpendidikan''.

Hampir semua bangsa di dunia ingin maju sehingga pendidikan diposisikan sebagai ''kunci'' oleh suatu negara atau bangsa untuk membuat suatu kehidupan yang lebih baik. Sebab, dengan pendidikan suatu bangsa menjadikan dirinya sebagai bangsa yang besar. Karena itu barometer bagi pertumbuhan dan perkembangan suatu bangsa ditentukan oleh tingginya tingkat pendidikan.

Kalau mengintip sekolah di luar negeri, misalkan di Finlandia, tidak begitu menakjubkan, pada awal 1960-an sebagian besar anak usia sekolah meninggalkan sekolah negeri setelah delapan tahun. Hanya yang memiliki keistimewaan atau beruntung saja yang dapat dapat meneruskan pendidikan berkualitas. Pada 1968, parlemen Finlandia memutuskan bahwa pendidikan adalah kesempatan terbaik untuk kemajuan ekonomi. "Bila kami ingin bersikap kompetitif, kami perlu mendidik semua orang".

Sekolah diatur ke dalam satu sistem sekolah komprehensif untuk anak usia 7 sampai 16 tahun. Guru dari seluruh penjuru negeri berkontribusi pada kurikulum nasional. Sebagian besar guru-gurunya dipercaya untuk melakukan apa pun yang perlu dilakukan untuk mengubah hidup anak-anak muda. Jelas bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam menentukan nasib suatu bangsa.

Di Indonesia

Bangsa Indonesia hari ini terus meratapi nasibnya, yang terus-menerus diterpa badai krisis berkepanjangan, baik di sektor ekonomi, sosial, budaya, politik serta hukum. Bahkan sekarang ini sangatlah sulit memilih seorang di antara rakyat yang berpenduduk lebih dari 210 juta jiwa menjadi pemimpin yang mampu dan sanggup menata kembali kondisi bangsa Indonesia supaya tidak tenggelam dalam sejarah.

Banyak lembaga pendidikan yang mendidik anak didiknya terlepas dari realitas. Terlepas dari kenyataan sosial. Begitu selesai dari lembaga pendidikan, masuk ke tengah masyarakat tidak tahu apa-apa. Lulusan lembaga pendidikan itu ibaratnya masuk ke tengah hutan belantara, gelap gulita tidak tahu arah, bingung. Jadi tidak sedikit lembaga pendidikan semacam itu yang membuat gap yang antara pendidikan dengan realitas. Lembaga pendidikan seperti itu jadi semacam menara gading saja yang output-nya dan lulusannya tidak siap pakai di tengah masyarakat. Lembaga pendidikan seperti itu akan menghambat tumbuhnya "tanaman" yang kelak buahnya diharapkan menyuburkan lahan bumi pertiwi.

Meskipun Indonesia dikenal sebagai bangsa yang punya sopan santun tinggi dan bahkan pernah disebut sebagai macan Asia tentang pertumbuhan ekonominya, akan tetapi semuanya tinggalah sejarah yang akan dikenang oleh seluruh bangsa Indonesia kalau peningkatan mutu pendidikan tidak segera dilaksanakan. Istilah yang sering kita dengar, revolusi pendidikan mestilah segera dilakukan juga di Indonesia, sebab kalau tidak segera dilakukan maka dikhawatirkan kerusakan semakin menjadi. Masalahnya adalah sistem pendidikan yang bagaimana yang mampu mengubah kondisi kualitas pendidkan di Indonesia?

Sesuai Bakat-Kemampuan

Pendidikan sebagai suatu proses membiasakan dan mengembangkan psikologi, intelektual, etika, dan disiplin harus dijadikan ke dalam suatu sistem yang benar-benar mengarah pada pendidikan tingkat dasar dan menengah. Pengarahan demikian akan mempermudah untuk meneruskan ke tingkat pendidikan tinggi atau pendidikan profesi. Pendidikan dimulai dari pendidikan dasar, sehingga hal tersebut akan memperketat kontrol terhadap perkembangan dan kemajuan peserta didik itu sendiri. Bakat dan kemampuannya dapat dievaluasi dan peserta didik dapat diarahkan kepada bidang menurut bakat dan kemampuannya, apakah mampu untuk ke pendidikan tinggi atau cenderung pada pendidikan profesi tanpa ada pemaksaan dari pihak mana pun, tetapi melalui kecenderungan yang ada pada diri peserta didik.

''Tugas utama pendidikan adalah mengacu pada kemerdekaan sebagai upaya memulihkan harkat dan kodratnya,'' kata Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Oleh karena itu tujuan pendidikan mestilah dapat menjamin bahwa setiap individu diberi kesempatan untuk mengembangkan diri sedemikian rupa, sehingga ia dapat sepenuhnya menyadari kemampuan potensinya. Perkembangan pribadi bagi peserta didik harus terus diarahkan, oleh karena itu bila setiap peserta didik dibina dan dikembangkan sesuai dengan kapasitasnya, serta didorong berpikir untuk selalu mengoreksi dirinya sendiri, mereka akan mampu memberikan sumbangan yang lebih banyak kepada kesejahteraan masyarakat.

Indonesia masih membutuhkan manusia yang berkualitas untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Indonesia yang begitu luas, pulaunya yang begitu banyak, lautannya yang begitu luas susah menjangkau dari satu pulau ke pulau lain dan bahasa yang beraneka ragam, yang kita perlukan adalah pemimpin yang dapat merangkum semua kekuatan. Pendidikan yang mampu menciptakan output semacam itu hanya pendidikan yang mempunyai kurikulum pendidikan komprehensif dan mengajarkan semua unsur yang dibutuhkan untuk kemajuan bangsa Indonesia. (Balipost)

* Penulis, pengajar tinggal di Bekasi
sumber :  https://www.facebook.com/groups/nasionalis/330866660316445/

Purifikasi Gerakan Politik Perguruan Tinggi

Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada

Meskipun partai politik mendukung gerakan politik perguruan tinggi turun ke jalan, nyatanya mahasiswa sebagai motor gerakan tidak terseret pada politik praktis, misalnya gerakan turunkan presiden atau bubarkan pemerintah seperti terjadi pada tahun 1998. Walaupun ada, wacana itu bukanlah premis mayor gerakan politik perguruan tinggi. Namun, fenomena ini telah menyulut api sekam gerakan politik perguruan tinggi.

Disulut rencana pemerintah menaikkan harga BBM, gerakan politik perguruan tinggi mulai riuh. Kehidupan parlemen jalanan mulai berdenyut diprakarsai mahasiswa yang berdemonstrasi di seluruh Indonesia. Akibatnya, pemerintah mulai khawatir gerakan ini bakal mengganggu jalannya roda pemerintahan. Presiden SBY secara tidak langsung menyebut gerakan mahasiswa tersebut sebagai fenomena aneh. Ada apa dengan gerakan politik perguruan tinggi?

Kekhawatiran pada gerakan politik perguruan tinggi akan semakin membesar dan meluas secara kasat mata berusaha diantisipasi. Presiden dalam lawatannya ke Cina dengan pesawat kepresidenan baru, berusaha menyertakan mahasiswa. Alasannya pun dibuat logis, bahwa akan ada agenda pembicaraan mengenai kepemudaan, khususnya pertukaran mahasiswa. Setelah itu, Rektor Perguruan Tinggi seluruh Indonesia dikumpulkan Mendikbud untuk diberikan pemahaman mengenai logika pemerintah menaikkan harga BBM. Namun, mahasiswa tak bergeming. Ketua BEM perguruan tinggi menolak diajak jalan-jalan ke Cina. Rektor, pascapertemuan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tidak ada yang mengeluarkan statemen.

Sebaliknya, partai oposisi yang dipimpin PDI-P secara langsung mendukung gerakan politik mahasiswa dengan ikut serta turun ke jalan memprotes kenaikan harga BBM. Beberapa kepala daerah yang berasal dari partai oposisi dituduh menggerakkan masa mendukung demonstrasi mahasiswa. Akibatnya, menteri dalam negeri mengancam akan memecat bupati atau gubernur yang menggerakkan massa turun ke jalan itu.

Meskipun partai politik mendukung gerakan politik perguruan tinggi turun ke jalan, nyatanya mahasiswa sebagai motor gerakan tidak terseret pada politik praktis, misalnya gerakan turunkan presiden atau bubarkan pemerintah seperti terjadi pada tahun 1998. Walaupun ada, wacana itu bukanlah premis mayor gerakan politik perguruan tinggi. Namun, fenomena ini telah menyulut api sekam gerakan politik perguruan tinggi.

Purifikasi

Bila pada masa lalu gerakan politik perguruan tinggi dengan demonstrasi di jalanan dimulai dari perguruan tinggi besar di ibu kota, maka kini gerakan dimulai dari daerah, dari perguruan tinggi swasta kecil. Apakah ini menunjukkan perguruan tinggi besar di ibu kota tidak peduli dengan urusan harga BBM yang berkaitan dengan kepentingan rakyat kecil? Tidak juga, perguruan tinggi besar di ibu kota sebenarnya menyadari bahwa dari sudut pandang ekonomi makro, kenaikan (baca: penyesuaian) harga BBM dipandang logis. Demi terjaganya pertumbuhan ekonomi, dengan perhitungan yang akurat, kenaikan harga BBM dipandang sebagai salah satu turbulensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena masalah kenaikan harga BBM ini sangat sensitif digunakan sebagai alat politik menjatuhkan pemerintah, maka ada nuansa kehati-hatian perguruan tinggi besar di ibu kota untuk melakukan kegiatan total dalam menyikapi kenaikan harga BBM itu. Mereka takut dituduh ditunggangi, dibayar, ataupun dikooptasi kepentingan politik praktis.

Alhasil, perguruan tinggi besar di ibu kota lebih memilih untuk memperjuangkan aspirasinya melalui jalur formal dengan mengikuti sidang di gedung parlemen. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wakil rakyat yang tengah dibelenggu ketidakpercayaan publik akibat korupsi, mobil mewah, malas sidang, perpecahan koalisi, dan persoalan lain mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM atau tidak.

Kalaupun ada gerakan demonstrasi cukup besar di luar gedung DPR/MPR saat paripurna penentuan kenaikan harga BBM, namun itu lebih diakibatkan desakan dari demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah oleh mahasiswa perguruan tinggi swasta kecil di daerah. Aparat pun terkesan membiarkan demonstrasi itu berlangsung, sampai waktunya harus dibubarkan.

Fenomena menarik dari gerakan politik perguruan tinggi yang terjadi selama ini ialah terjadinya apa yang disebut purifikasi gerakan yang dimurnikan oleh situasi dan keadaan konstelasi politik nasional yang semakin hari tampak semakin tak tentu arah. Kritik besar terhadap kegagalan sistem demokrasi yang diperjuangkan melalui gerakan reformasi semakin sering didengungkan, baik oleh politisi oposisi di luar pemerintahan maupun oleh politisi yang sedang menikmati kekuasaan di pemerintahan.

Purifikasi gerakan politik perguruan tinggi tampak dari gejala semakin kreatifnya gerakan politik itu dilakukan. Pengambilalihan lahan, blokade wilayah industri, sampai pendudukan bandar udara, pelabuhan, dan gedung pemerintahan telah mulai dilakukan. Bak gayung bersambut, gerakan politik perguruan tinggi juga diikuti oleh gerakan petani memperjuangkan lahannya, gerakan buruh menaikkan upah, dan gerakan kaum miskin kota memperjuangkan nasibnya.

Api Sekam

Rezim pemerintahan saat ini, bila dicermati dibebani oleh dua kasus besar, yakni kasus kecurangan pemilu dan mega korupsi. Dua periode pemerintahan SBY, ditandai hengkangnya anggota KPU ke Partai Demokrat. Anas Urbaningrum yang sekarang berhasil menjabat ketua umum Partai Demokrat lebih dulu meninggalkan KPU yang kemudian pada periode berikutnya disusul Andi Nurpati. Secara implisit peristiwa itu menandakan adanya hubungan antara anggota KPU dengan proses terpilihnya SBY sebagai presiden dan melambungnya perolehan kursi DPR yang direbut Partai Demokrat.

Mega korupsi? Tentu saja dapat menjadi alat ampuh lawan SBY dan Partai Demokrat untuk menghancurkannya. Bukankah dalam teori politik ada istilah to kill or to be kill? Kasus Bank Century, kasus politik uang pemilihan ketua umum Partai Demokrat, dan kini kasus-kasus mega proyek yang menyeret petinggi partai bisa menjadi senjata ampuh menghancurkan SBY dan Partai Demokrat.

Fenomena mantan kepala negara dijadikan pesakitan setelah menjabat telah terjadi di negara tetangga seperti Thailand dan Filipina. Melihat kecenderungan itu, bukan mustahil juga akan terjadi di negeri ini. Pada saat itu, api sekam gerakan politik perguruan tingga siap menyala.

* sumber : Penulis, mengajar di Fakultas Sastra Unud dan Pascasarjana Unhi
 https://www.facebook.com/groups/nasionalis/doc/306156322787479/

Desain Ekonomi Indonesia, Dari Utang Sampai ke Migas (Bag. I)


OPINI | 19 April 2012 | 12:52 

Dada saya bergetar, bibir saya menganga dan terpaku dengan sorot mata tanpa kedipan. Kurang lebih 3 sampai 5 menit mata saya memandang marah pada layar televisi. Sebuah acara bincang santai dengan tokoh-tokoh penting tapi memberikan pemirsanya sebuah pilihan persepsi dan cara pandang pada sebuah masalah (ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, musik, seni) pokoknya semua hal yang sangat penting, menarik, edukatif, informatif bahkan “seksi” untuk diantarakan kepada telinga publik (inilah bagian penting tugas pokok Jurnalisme yang ingin memposisikan dirinya sebagai mediator yang konon katanya menjadi salah satu tiang demokrasi). Ya.. acara yang membuat saya marah itu adalah Tatap Muka yang dipandu oleh si cerdas Farhan.
Acara yang menjadi salah satu acara favorit saya itu memang selalu memberikan saya persepsi dan perspektif lain dalam memandang setiap permasalahan. Tapi acara Tatap Muka pada malam itu, membuat saya semakin tak pernah memindahkan channel ke TV lain walau sedang waktunya iklan (biasanya saya selalu memindahkan channel bila ada iklan). Betapa tidak, tokoh yang kali ini ditemui Farhan adalah tokoh sekaligus ahli ekonomi yang saya kagumi, Kwik Kian Gie. Dialah ahli ekonomi yang pandangan-pandangan ekonominya selalu kritis bila beliau mencium “penghambaan” terhadap intervensi asing pada kebijakan ekonomi pemerintah kita. Dia salah satu ekonom yang mencoba melawan arus sebuah kekuatan besar yang mendikte ekonomi setiap pemerintahan, apalagi negara-negara berkembang dunia ketiga seperti Indonesia, walau dia akui kekuatan besar itu tak mampu dia lawan (pengakuan beliau kepada Farhan).
Dalam percakapan itu, Kwik berbicara tentang oportunisme Australia sehingga mendesak Indonesia melakukan Referendum di Timor-timur. Tapi awal bagian terbaiknya di mulai ketika Kwik membicarakan keberanian Soekarno dalam melawan kekuatan-kekuatan imperialisme barat, bahkan Kwik menyatakan “anugerah terbesar untuk Indonesia karena memilki pemimpin seperti Soekarno”. Kwik kemudian menceritakan kisah yang dialami oleh megawati ketika berusia 16 tahun. Ketika itu Istana dipenuhi oleh petinggi-petinggi perusahaan minyak Amerika dengan niat mengajukan hak eksploitasi sumber-sumber minyak di Indonesia kepada Soekarno. Soekarno lantas memanggil semua menteri dan staf ahli yang berkaitan dengan pertambangan, dan Soekarno berkata “berikan hak itu seminimal-minimalnya hanya untuk menutupi APBN kita, jangan lebih”. Setelah pertemuan itu kemudian Megawati menghampiri ayahnya dan bertanya “kenapa?” kemudian Soekarno menjawab “nanti setelah bangsa kita memiliki insinyur sendiri yang handal”. Pikiran revolusioner Soekarno itulah yang kemudian dikagumi oleh Kwik.
Kemarahan saya meradang ketika acara itu masuk kepada sekmen ke 3 (kalau tidak salah), dimana Farhan bertanya mengenai kekuatan besar dibalik taring tajam IMF dan Worl Bank. Dengan santai tapi penuh makna kritis, Kwik memulai jawabannya dengan sebuah pegalaman pribadi ketika dia menjadi Menko Ekonomi pada Kabinet pimpinan Gusdur. Dia mengisahkan pada waktu itu dirinya dipanggil oleh Gus Dur. Gus Dur mengatakan pada Kwik kalau dirinya merasa direpotkan oleh dirinya sebagai Menko Ekonomi, karena apa yang diutarakan oleh Gus Dur adalah perasaan tertekan karena ditekan oleh kekuatan besar itu. Saya tidak ingat secara utuh apa yang diceritakan oleh Kwik mengenai ucapan Gus Dur, yang jelas kurang lebih seperti ini : “aku tuh tertekan karena ditekan dan dipaksa untuk memecat kamu” Kwik menjawab “siapa yang tekan sampean?” “kamu juga pasti tahu” timpal Gus Dur. Singkat cerita Gus Dur sangat merasakan kekuatan besar yang menekan dirinya, tapi dia sendiri tidak bisa melawan kekuatan itu.
Betapa tidak, Kwik ketika menjabat Menko Perekonomian, begitu kritisnya dia kepada campur tangan IMF dan World Bank yang seenak perutnya mendendesain konsep ekonomi kita dengan tekanan-tekanannya (mungkin ini yang dirasakan sebagai tekanan kekuatan besar oleh Gus Dur). Tapi ketika itu Gus Dur tidak mendepak Kwik, tapi Gus Dur segera membuat Dewan Ekonomi dimana Sri Mulyani menjadi sekretarisnya (pendapat saya itu bukanlah kehendak Gus Dur, melainkan kehendak dan tekanan apa yang dinamakan Gus Dur sebagai kekuatan besar). Tugas Dewan Ekonomi adalah mengawasi dan mengontrol pertemuan-pertemuan yang dkoordinir oleh Kwik dalam kapasitasnya sebagai Menko Ekonomi. Menurut Kwik setiap rapat-rapat yang dikomandoi oleh dirinya, mata Sri Mulyani selalu tertuju pada dirinya. Bahkan dia juga meyakini, Dewan Ekonomi lah yang terus memasok laporan dan informasi kepada IMF dan World Bank tentang langkah-langkah, perlawanan-perlawannya serta kritik-kritiknya kepada IMF. Hal itu diyakini ketika dia didatangi petinggi IMF dan bertanya seraya menunjuk-nunjuk kepada dirinya “kenapa anda selalu neko-neko dengan kebijakan kami” tanya petinggi IMF itu. Kemudian petinggi IMF itu memberikan argumen dan alasan mengenai pertanyaannya itu, anehnya menurut Kwik, argumen-argumen itu sama persis dengan pemamparan dan argumen hukum (versi IMF) yang disampaikan oleh Sri Mulyani (kapasitas sebagai sekretaris Dewan Ekonomi) dalam rapat-rapat yang Kwik pimpin. (pada titik itu amarah saya semakin memuncak)
Dalam kesempatan yang sama, Farhan juga bertanya indikator apa, bahwa bangsa kita tengah dikuasai, dijajah dan ditekan oleh kekuatan yang datangnya dari barat yang nun jauh disana?. Lagi-lagi Kwik menjawab dengan santai, “eksploitasi minyak kita 98 persen dikuasai oleh raksasa-raksasa perusahaan minyak asing, pertamina hanya berhak mengelola 2 persen cadangan minyak bumi kita”. Dengan cerdas Farhan memotong, “apa mungkin kita belum mampu mengelola minyak sebanyak itu sehingga harus diberikan kepada asing?”. Kwik memberikan jawaban yang cepat berdasarkan kisah dan fakta yang dia alami. “saya pada waktu itu bertanya kepada pimpinan Pertamina, dengan sumber daya yang ada apakah kita mampu menggarap semua cadangan minyak yang kita punya? Pimpinan pertamina itu menjawab, sangat bisa (dengan berbagai argumen, analisa dan fakta tentang sumber daya kita berdasarkan pengalaman sang pimpinan Pertamina), tapi apakah keuangan kita mampu? Jelas petinggi pertamina itu. Kemudiana saya penasaran dan bertanya kepada ahli keuangan di Pertamina, dan jawaban ahli keuangan itu, puluhan Bank telah mengantri untuk bisa memberikan dana dalam mengelola seluruh cadangan minyak kita oleh Pertamina, artinya sangat bisa”. Kemudian Kwik mengakhiri dengan kesimpulan kekuatan besar itu ada dan nyata dalam mengendalikan bangsa ini.
Tapi Kwik meyakini, bila kekuatan besar itu jauh melampaui kekuatan sebuah negara (bahkan sekelas negara adidaya Amerika). Menurut kwik kekuatan besar itu sifatnya global berdiri sendiri diluar kekuatan negara super power Amerika
Orang cenderung mengidentikan kekuatan besar itu adalah Amerika dan negara-negara Eropa yang dirampingkan menjadi kekuatan Barat, padahal kekuatan besar itu berdiri dibelakang dominasi barat. Dalam hal ini saya meyakini, kekuatan itu pulalah yang mempengaruhi Amerika dalam setiap manuvernya (apalagi menyangkut politik luar negerinya yang oportunis, standar ganda yang mempunyai sifat agresor). Saya juga meyakini, Amerika berkembang menjadi negara adidaya sebagai kekuatan tunggal (setelah memenangkan perang dingin dalam drama dualisme kepemimpinan dunia dengan Rusia) adalah bagian dari rencana besar apa yang dikatakan Gud Dur dan Kwik itu sebagai kekuatan besar. (Bersambung)

sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/04/19/desain-ekonomi-indonesia-   dari-utang-sampai-ke-migas-bag-i/

soekarno menDesain kekuatan Ekonomi indonesia

Banyak orang yang nggak tau bahwa Bung Karno adalah salah satu Presiden yang amat mengerti tata ruang kota dan tata ruang wilayah geopolitik, dia sendiri sudah mendesain seluruh wilayah Indonesia dengan bagian-bagian pembangunannya, hal ini menjadi satu bagian dari dokumen Deklarasi Ekonomi Djuanda 1960.


Quote:
Quote:
Kebanyakan dari orang-orang Sukarno hanyalah seorang arsitek yang gemar mendesain patung, hasil karyanya untuk rumah hanyalah beberapa rumah di Bandung yang ia gambar saat ia berkolaborasi dengan Insinyur Rooseno, atau ketika ia baru lulus kuliah THS (skg ITB) membuat jembatan-jembatan kecil. Bahkan secara sarkastis, mahasiswa-mahasiswa anti Sukarno di tahun 1965 meledek Bung Karno sebagai "Orang Tua Pikun, Patung kok dikira celana" samberan ini meledek soal pidato Sukarno, bahwa Patung itu seperti celana, sebagai sebuah kehormatan bangsa.
Quote:
Quote:
Padahal Sukarno adalah pemikir besar, ia mendesain bukan saja patung-patung yang banyak meniru model Eropa Timur, ia mendesain kota-kota besar masa depan Indonesia. Di tahun 1958 setelah pengusiran warga Belanda dan pengambilalihan modal-modal Belanda sebagai bagian pernyataan siap perang Indonesia dengan merobek-robek perjanjian KMB, Sukarno sebenarnya sudah merancang Djakarta menjadi kota tempur.

Quote:
Quote:
Seperti kota Singapura di mana seluruh bujur jalannya lurus-lurus dan lebar sekali, sebenarnya itu disiapkan untuk menjadi markas atas penguasaan wilayah Asia Tenggara. Bagi Bung Karno stabilitas Asia Tenggara adalah segala-galanya untuk melepaskan Indonesia dari politik ketergantungan modal dan politik invasi wilayah-wilayah produk ~apa yang ditakutkan Sukarno pernah diucapkan pada Djuanda "Amerika sekarang tak lebih dengan Belanda, mereka tak berminat terhadap kesatuan wilayah, mereka hanya berminat wilayah-wilayah kaya modal, wilayah produktie, inilah yang menyamakan mereka dengan Belanda di tahun 1947 dimana agresi militer mereka dinamakan dengan sandi "Operatie Produkt"

Quote:
Quote:
Wilayah-wilayah yang jadi prioritas Sukarno setelah siap perang dengan Belanda adalah Irian Barat, merebut Irian Barat dan menjadi satu bagian NKRI adalah satu syarat agar bangsa ini menjadi paling kuat di Asia. Selain Irian Barat yang menjadi perhatian penting Bung Karno adalah Kalimantan. Awalnya Semaun yang membawa saran tentang perpindahan ibukota, -Semaun adalah konseptor besar atas tatanan ruang kota-kota satelit Sovjet Uni di wilayah Asia Tengah - dan ini kemudian disambut antusias oleh Bung Karno, selama 1 tahun penuh Bung Karno mempelajari soal Kalimantan ini, ia berkesimpulan "masa depan dunia adalah pangan, sumber minyak dan air. Pertahanan militer bertumpu pada kekuatan Angkatan Udara"


Quote:
Quote:
Bung Karno membagi dua kekuatan itu besar pertahanan nasional dalam dua garis besar : Pertahanan Laut di Indonesia Timur dengan Biak menjadi pusat armada-nya (ini sesuai dengan garis geopolitik Douglas MacArthur) dan Pertahanan Udara di Kalimantan. Lalu Bung Karno mencari kota yang tepat untuk menjadi 'Pusat Kalimantan'
Quote:
Quote:
Lalu pada satu malam di hadapan beberapa orang Bung Karno dengan intuisinya mengambil mangkok putih di depan peta besar Kalimantan, ia menaruh mangkok itu ke tengah-tengah peta, kemudian Sukarno berkata dengan mata tajam ke arah yang mendengarnya "Itu Ibukota RI" Bung Karno menunjuk satu peta di tepi sungai Kahayan. Lalu Bung Karno ke tepi Sungai Kahayan dan melihat sebuah pasar yang bernama Pasar Pahandut, dari Pasar inilah Bung Karno mengatakan "Ibukota RI dimulai dari sini" ini sama persis dengan ucapan Daendels di depan Asisten Bupati Sumedang saat membangun jalan darat Pos Selatan untuk gudang arsenal Hindia-Perancis, ketika itu ia menunjuk satu tempat yang kita kenal sekarang sebagai Bandung "Bandung jadi titik nol wilayah pertahanan Jawa"

Quote:
Quote:
Lalu Bung Karno menyusun dasar-dasar kota administrasi provinsi dengan dibantu eks Gubernur Jawa Timur RTA Milono, pada saat penyusunan birokrasi itu Bung Karno sedang menyiapkan cetak biru besar tentang rancangan tata ruang negara dari Sabang Sampai merauke. Antara Pulau Sumatera-Jawa dan Bali akan dibangun terowongan bawah tanah, karena rawan gempa Bung Karno meningkatkan armada pelabuhan antar pulau dipesan kapalnya dari Polandia. Tapi rencana membuat channel seperti di selat Inggris tetap diprioritaskan bahkan menjelang kejatuhannya di tahun 1966 ia bercerita tentang channel bawah tanah yang menghubungkan Pulau Sumatera-Jawa dan Bali

Quote:
Quote:

Pusat pelabuhan dagang bukan diletakkan di Jawa, tapi disepanjang pesisir Sumatera Utara- Kalimantan-Sulawesi, Sukarno mempersiapkan rangkaian pelabuhan yang ia sebut sebagai "Zona Tapal Kuda". Wilayah Jawa dan Bali dijadikan pusat lumbung pangan.
Quote:
Quote:
Kota-kota baru dibangun, pilot project-nya adalah Palangkaraya dan Sampit, setelah itu Djakarta juga dibangun untuk display ruang atau model kota modern, Jakarta tetap dijadikan pusat kota jasa Internasional sementara Palangkaraya menjadi pusat pemerintahan dan pertahanam militer udara, Biak di Irian Barat jadi pertahanan militer laut dan Bandung jadi Pusat Pertahanan militer darat.

Quote:
Quote:
*lihatgambardiatas Seluruh jalan Palangkaraya dibuat lurus-lurus dan menuju satu bunderan besar, bila perang dengan Inggris beneran terjadi maka jalan-jalan itu diperlebar sampai empat belas jalur untuk pendaratan pesawat Mig21 yang diborong dari Sovjet Uni. Rencana tata kota sampai dengan tahun 1975. Rafinerij atau tambang-tambang minyak milik asing akan diambil alih dan diberikan pada serikat-serikat buruh penguasaan saham diatasnamakan negara dan uangnya untuk pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan umum. Pangdam Kaltim di pertengahan tahun 1960-an Brigjen Hario Ketjik adalah salah satu fanatik Sukarnois yang menerapkan rencana ini di Kalimantan Timur.

#foto bundaran besar Palangkaraya

Quote:
Quote:
Pembangunan tata ruang kota Palangkaraya diatur amat teliti, sampai sekarang tata ruang kota Palangkaraya paling rapi di Indonesia. Visi Sukarno, di tahun 1975 Indonesia akan jadi bangsa terkuat di Asia dan menjadi salah satu negara adikuasa dunia dalam konteks the big five : Amerika Serikat, Inggris, Sovjet Uni dan Jepang.Jepang dan Cina menurut Sukarno masih bisa dibawah Indonesia. Dan Indonesia jadi negara terkuat di Asia memimpin tiga zona wilayah. (Asia Tenggara, Asia Selatan dan Asia Timur)

Quote:
Quote:
Setelah Bung Karno kalah duluan sama Suharto dalam penguasaan keadaan saat Gestapu 1965, Bung Karno diinternir, Suharto amat takut dengan bentuk persebaran kekuatan wilayah, ia bertindak seperti Amangkurat I yang paranoid terhadap kekuatan pesisir, ia tarik seluruh kekuatan modal dan manusia ke satu pusat yaitu : Jawa


Quote:
Quote:
Padahal Jawa disiapkan Sukarno sebagai pulau yang khusus lumbung pangan dan pariwisata, pulau peristirahatan, sekarang Jawa adalah pusat segala-galanya, menjadi pulau paling padat sedunia dan tidak memiliki kenyamanan sebagai sebuah 'surga khatulistiwa' sementara Kalimantan dibiarkan kosong melompong
Quote:
Quote:
Andai saja akademisi kita tidak ikut-ikutan mengotori dirinya seperti comberan mulut politikus, ada baiknya menggali "rencana-rencana Sukarno" ini ketimbang mengomentari dan mengamati 'Para Maling main politik'. 

 sumber : http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=14270191

Minggu, 10 Juni 2012

sejarah koperasi


Logo Gerakan Koperasi Indonesia (1960an-2012)
Sejarah singkat gerakan koperasi bermula pada abad ke-20 yang pada umumnya merupakan hasil dari usaha yang tidak spontan dan tidak dilakukan oleh orang-orang yang sangat kaya.[7] Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme semakin memuncak.[7] Beberapa orang yang penghidupannya sederhana dengan kemampuan ekonomi terbatas, terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi yang sama, secara spontan mempersatukan diri untuk menolong dirinya sendiri dan manusia sesamanya.[7]
Pada tahun 1896 seorang Pamong Praja Patih R.Aria Wiria Atmaja di Purwokerto mendirikan sebuah Bank untuk para pegawai negeri (priyayi).[7] Ia terdorong oleh keinginannya untuk menolong para pegawai yang makin menderita karena terjerat oleh lintah darat yang memberikan pinjaman dengan bunga yang tinggi.[7] Maksud Patih tersebut untuk mendirikan koperasi kredit model seperti di Jerman.[7] Cita-cita semangat tersebut selanjutnya diteruskan oleh De Wolffvan Westerrode, seorang asisten residen Belanda.[8] De Wolffvan Westerrode sewaktu cuti berhasil mengunjungi Jerman dan menganjurkan akan mengubah Bank Pertolongan Tabungan yang sudah ada menjadi Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian.[7] Selain pegawai negeri juga para petani perlu dibantu karena mereka makin menderita karena tekanan para pengijon.[7] Ia juga menganjurkan mengubah Bank tersebut menjadi koperasi.[7] Di samping itu ia pun mendirikan lumbung-lumbung desa yang menganjurkan para petani menyimpan pada pada musim panen dan memberikan pertolongan pinjaman padi pada musim paceklik.[7] Ia pun berusaha menjadikan lumbung-lumbung itu menjadi Koperasi Kredit Padi.[7] Tetapi Pemerintah Belanda pada waktu itu berpendirian lain. Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian dan Lumbung Desa tidak dijadikan Koperasi tetapi Pemerintah Belanda membentuk lumbung-lumbung desa baru, bank –bank Desa , rumah gadai dan Centrale Kas yang kemudian menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI).[7] Semua itu adalah badan usaha Pemerntah dan dipimpin oleh orang-orang Pemerintah.[7]
Pada zaman Belanda pembentuk koperasi belum dapat terlaksana karena:[9]
1. Belum ada instansi pemerintah ataupun badan non pemerintah yang memberikan penerangan dan penyuluhan tentang koperasi.
2. Belum ada Undang-Undang yang mengatur kehidupan koperasi.
3. Pemerintah jajahan sendiri masih ragu-ragu menganjurkan koperasi karena pertimbangan politik, khawatir koperasi itu akan digunakan oleh kaum politik untuk tujuan yang membahayakan pemerintah jajahan itu.
Pada tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat.[8] Pada tahun 1915 dibuat peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927 Regeling Inlandschhe Cooperatieve.[8]
Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi.[8] Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi.[8]
Namun, pada tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya.[9] Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia.[9] Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai.[9] Awalnya koperasi ini berjalan mulus.[9] Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat Indonesia.[9]
Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya.[9] Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.[9]

 http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi

Sejarah Lambang Garuda

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, Sultan Hamid II diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ia ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.


LAMBANG PERTAMA



Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.


LAMBANG KEDUA



Pada tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali – Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.

AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Departemen Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “’tidak berjambul”’ seperti bentuk sekarang ini.

Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950.


LAMBANG KETIGA



Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.

Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.


LAMBANG KEEMPAT



Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah, Pontianak.

Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

sumber : http://isidunia.blogspot.com/2011/08...ng-garuda.html

(MIS) INTERPRETASI 'AYAT PLURALISME

(Thursday, 28 December 2006) -  Contributed by Syamsuddin Arif
Artikel Zuhairi Misrawi tentang 'ayat pluralisme' di harian Republika (08/12) menarik sekaligus menyisakan beberapa persoalan eksegetis. Setelah menguraikan pendapat bahwa ayat 69 surah Al Maidah tetap berlaku, Zuhairi menyimpulkan, "Pada mulanya Rasulullah SAW sendiri beranggapan bahwa orang-orang non-Muslim tidak akan masuk surga. Tapi setelah turun ayat tersebut, maka semakin jelas tentang kekuasaan dan kehendak Tuhan terhadap orangorang non-Muslim. Perbedaan agama tidak menghalangi Tuhan untuk memberikan pahala." Dengan kata lain, di manaletak
keadilan dan kasih sayang Tuhan jika orang-orang non-Muslim yang saleh dan banyak berbuat baik semasa hidupnya kelak dijebloskan ke neraka?
Memang benar, soal masuk surga dan neraka adalah hak prerogatif Tuhan. Hanya Tuhan yang berhak menghakimi dan memutuskan siapa bakal masuk ke mana kelak. Namun, di samping memberikan semacam 'tips' untuk bisa sampai ke sana, Tuhan juga mengumumkan ciri-ciri kandidat ahli surga maupun ahli neraka.
Untuk memperoleh pemahaman yang jujur dan jernih perihal 'ayat pluralisme' itu semestinya kita tidak mengabaikan konteks siyaq, sibaq, serta lihaq ayat tersebut. Pertama, mari kita perhatikan ayat-ayat yang mendahuluinya, setidaknya mulai ayat 41 hingga 68. Secara eksplisit Tuhan mengecam sikap dan perilaku kalangan Ahlul Kitab yang ingkar dan 'lain di mulut lain di hati', gemar memelintir kebenaran, menuruti hawa nafsu, mempermainkan agama dan menimbulkan
permusuhan. Selanjutnya mari kita lihat ayat-ayat yang mengikutinya, terutama ayat 78 hingga 86 Surat Al Maidah yang menjadi konteks lihaq 'ayat pluralisme' tersebut.
Dinyatakan di sana bahwa mereka yang kufur dari kalangan Bani Israil telah dikutuk karena selalu durhaka dan melampaui batas, membiarkan kemungkaran terjadi, menjadikan orang tak beriman sebagai pelindung mereka. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya niscaya mereka tidak meminta perlindungan kepada orang-orang tersebut, namun mayoritas mereka memang fasik.
Akan kamu dapati orang yang paling memusuhi kaum beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Sedang yang paling dekat dan bersahabat ialah orang-orang Nasrani, karena di antara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, juga karena mereka tidak angkuh. Bila mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasulullah mata mereka berkaca-kaca terharu oleh kebenaran yang telah mereka ketahui, seraya berkata: "Ya Tuhan, kami telahberiman, maka masukkanlah kami dalam daftar orang-orang yang menjadi saksi. Bagaimana kami tidak beriman kepada Allah dan kebenaran yang datang kepada kami, wong kami ini ingin agar Tuhan memasukkan kami ke dalam golongan orang saleh?" Maka Allah memberi mereka pahala untuk perkataan yang mereka ucapkan, yaitu surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, kekal abadi di sana. Demikianlah balasan bagi orang baik. Adapun mereka yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Allah jelas bakal menjadi penghuni neraka. Dari sini jelas sekali bahwa umat Yahudi dan Nasrani disanjung apabila mereka mau beriman kepada Nabi Muhammad dan ajaran yang dibawanya, tetapi dikecam jika tidak beriman, durhaka, dan bertindak melampaui batas. Ahlul Kitab
yang beriman masuk Islam dijanjikan pahala dua kali lipat, ujar Rasulullah dalam sebuah hadis sahih. Sebaliknya, Ahlul Kitab yang kepadanya telah sampai panggilan untuk beriman dan memeluk Islam tetapi enggan menyambutnya maka sulit baginya untuk terhindar dari api neraka (HR Muslim No 153). Sekarang marilah kita menggunakan pendekatan sola scriptura (ajaran) untuk menjawab sejumlah persoalan terkait. Tafsir Quran bil Quran
Pertanyaan pertama yang mengemuka terkait 'ayat pluralisme' itu ialah apa maksud ungkapan "siapa yang beriman di antara mereka?" Jawaban dan perincian rukun iman beserta indikatornya kita temukan dalam Surat Al Baqarah 285, Ali Imran 171-3, An Nisa 162, Al A'raf 157, Al Anfal 2-4 dan 74, At Tawbah 13, Al Mu'minun 2-9, An Nur 62, Al Hujurat 15, dan Al Hadid 19.
Kedua, apakah Ahlul Kitab Yahudi maupun Nasrani juga beriman? Menurut Alquran mayoritas mereka tidak beriman. Ini karena mereka mendustakan Nabi Muhammad dan wahyu yang diturunkan kepadanya, menolak syariatnya, enggan masuk Islam. Itulah sebabnya mengapa Allah menegur dan mengecam mereka (Al Baqarah 89-93, An Nisa 47, An Nisa'171). Namun demikian tidak semua Ahlul Kitab itu kafir. Ada sebagian kecil dari mereka yang beriman kepada
Rasulullah SAW dan memeluk Islam (Ali Imran 110-115 dan 199, juga Al Ankabut 47).
Selanjutnya, meski telah menyatakan diri beriman dan masuk Islam, mereka tentu akan diuji Tuhan (Al Ankabut 1-2).
Dalam hal ini posisi mereka sama dengan orang Muslim lainnya yang juga mengaku beriman dan perlu ujian. Mengapa demikian? Karena banyak orang mengaku Islam dan beriman di mulut saja sehingga menipu dirinya sendiri (Al Baqarah 8-9 dan Al Munafiqun 1). Ada juga yang telah menyatakan diri berislam dan beriman, tetapi baru sampai tahap minimal, di mulut dan di hati, tapi praktiknya belum (Al Hujurat 14) bahkan perbuatan maksiatnya jalan terus, sehingga disebut
fasiq (Al Maidah 49).
http://www.insistnet.com - INSISTS - Kajian Pemikiran dan Peradaban Islam Powered by Mambo Generated: 8 February, 2007, 10:36 
Ketiga, apa yang dimaksud dengan amal saleh dalam ungkapan "siapa yang berbuat baik'? Dijelaskan antara lain bahwa amal saleh adalah hidup berpandukan ajaran kitab suci dan mendirikan shalat (Al A'raf 168). Amal baik di sini berkaitan dengan dan berlandaskan ajaran serta perintah agama.
Terakhir, bagaimana memahami ungkapan 'mereka tidak perlu takut dan tidak perlu cemas'? Dalam Alquran, ungkapan seperti ini terdapat lebih dari sekali, dengan berbagai konteks. Yang jelas, untuk bisa memperoleh jaminan keselamatan di dunia dan akhirat seseorang harus berislam, beriman, beramal saleh, berihsan, bertaqwa, dan beristiqamah.

http://www.insistnet.com - INSISTS - Kajian Pemikiran dan Peradaban Islam Powered by Mambo Generated: 8 February, 2007, 10:36